Fenomena ini dikenal sebagai kebangkitan City Pop. Genre musik ini bukan sekadar tren nostalgia biasa; ia adalah representasi dari era kejayaan ekonomi Jepang, puncak kecanggihan teknologi rekaman pada masanya, dan jembatan budaya yang menghubungkan estetika Jepang dengan pengaruh Barat.
Bagaimana musik yang sempat terlupakan ini bisa menjadi "soundtrack" bagi jutaan pemuda di seluruh dunia pada abad ke-21? Mari kita telusuri sejarah, karakteristik, hingga alasan di balik viralnya City Pop.
1. Apa Itu City Pop?
Secara harfiah, City Pop adalah istilah payung untuk gaya musik populer Jepang yang muncul pada akhir 1970-an dan mencapai puncaknya pada 1980-an. Berbeda dengan genre musik Jepang tradisional atau Kayokyoku yang lebih melankolis, City Pop menawarkan nuansa "kota besar" yang kosmopolitan, modern, dan optimis.
City Pop menggabungkan berbagai elemen genre Barat seperti:
Soft Rock & AOR (Adult Oriented Rock)
Funk & Disco
Jazz Fusion
R&B dan Boogie
Liriknya sering kali bertema gaya hidup perkotaan, cinta di tengah kota metropolitan, perjalanan di sepanjang pesisir pantai dengan mobil konvertibel, dan kemewahan malam hari di Tokyo. Musik ini adalah "suara" dari Era Bubble Jepang, sebuah masa ketika ekonomi Jepang sedang tumbuh pesat dan masyarakatnya merasa bahwa masa depan sangatlah cerah.
2. Sejarah dan Masa Kejayaan Era Bubble
Akar City Pop dapat ditarik kembali ke grup band legendaris Happy End di awal 70-an, yang mulai memasukkan unsur rock Amerika ke dalam lirik bahasa Jepang. Namun, transformasi besarnya terjadi berkat musisi seperti Haruomi Hosono (yang kemudian mendirikan Yellow Magic Orchestra) dan Tatsuro Yamashita.
Kemewahan Produksi
Selama tahun 1980-an, label rekaman di Jepang memiliki anggaran yang sangat besar. Mereka mampu menyewa musisi sesi (session musicians) kelas dunia dari Amerika, menggunakan studio rekaman tercanggih, dan menginvestasikan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan kualitas suara yang sempurna (hi-fidelity). Itulah sebabnya, rekaman City Pop terdengar jauh lebih bersih dan kompleks dibandingkan banyak musik pop dari belahan dunia lain pada periode yang sama.
Visual dan Estetika
Daya tarik City Pop tidak hanya pada suara, tetapi juga visual. Sampul album sering kali menggunakan karya ilustrator ternama seperti Hiroshi Nagai dan Eizin Suzuki. Karya mereka identik dengan pemandangan kolam renang biru yang tenang, bayangan pohon palem, dan mobil klasik—menciptakan citra "hidup mewah di pesisir" yang sangat kuat.
3. Artis-Artis Kunci yang Harus Anda Ketahui
Bagi Anda yang ingin mulai mendengarkan, berikut adalah para pionir City Pop:
Tatsuro Yamashita: Sering disebut sebagai "Raja City Pop". Albumnya yang berjudul For You adalah mahakarya yang mendefinisikan genre ini. Ia dikenal dengan harmonisasi vokal yang sangat detail dan kemampuan produksi yang perfeksionis.
Mariya Takeuchi: Istri dari Tatsuro Yamashita. Lagunya "Plastic Love" menjadi katalisator utama kebangkitan City Pop secara global pada tahun 2017 setelah algoritma YouTube merekomendasikannya ke jutaan orang.
Miki Matsubara: Melalui lagu "Stay with Me", ia kembali viral di TikTok pada tahun 2020. Suaranya yang bertenaga dipadukan dengan aransemen jazz-funk menjadikannya favorit lintas generasi.
Taeko Onuki: Mewakili sisi City Pop yang lebih artistik dan eksperimental dengan sentuhan Eropa. Albumnya Sunshower adalah salah satu rekaman yang paling dicari oleh kolektor piringan hitam saat ini.
Anri: Terkenal dengan lagu-lagu bertema musim panas dan olahraga, seperti Timely!! dan Cat’s Eye.
4. Mengapa City Pop Kembali Viral Secara Global?
Ada beberapa faktor kunci yang membuat musik berusia 40 tahun ini meledak kembali:
Algoritma YouTube
Semua bermula dari kanal YouTube seperti "Plastic Lover" atau kanal kurasi musik lainnya. Algoritma YouTube mulai merekomendasikan lagu "Plastic Love" kepada pengguna yang mendengarkan musik lo-fi atau jazz. Gambar sampul Mariya Takeuchi yang memikat membuat banyak orang penasaran untuk mengeklik, dan mereka akhirnya jatuh cinta pada musiknya.
Estetika Vaporwave dan Future Funk
Subkultur internet seperti Vaporwave dan Future Funk sering menggunakan sampel lagu City Pop. Mereka memotong, mempercepat, atau memperlambat lagu-lagu 80-an Jepang ini menjadi musik dansa baru. Hal ini memperkenalkan melodi lama kepada audiens remaja yang mungkin belum pernah mendengar musik Jepang sebelumnya.
Kerinduan akan Nostalgia (Anemoia)
Anemoia adalah perasaan rindu pada masa yang belum pernah dialami. Generasi Z dan Milenial saat ini merasa terhubung dengan optimisme era 80-an. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, City Pop menawarkan pelarian visual dan auditori ke masa di mana segalanya tampak berkilau dan penuh gaya.
5. Dampak pada Industri Musik Saat Ini
Kebangkitan City Pop tidak hanya memengaruhi pendengar, tetapi juga musisi modern. Banyak artis internasional dan lokal yang memasukkan elemen City Pop ke dalam karya mereka:
The Weeknd: Menggunakan sampel lagu "Dress Down" milik Kaoru Akimoto untuk lagunya "Out of Time".
K-Pop: Grup seperti Twice, Yukika, dan Yubin telah merilis lagu dengan estetika City Pop yang sangat kental.
Musisi Indonesia: Banyak band indie tanah air (seperti Ikkubaru atau Diskoria) yang secara terang-terangan mengambil inspirasi dari struktur musik City Pop Jepang.
Kesimpulan
City Pop adalah bukti bahwa kualitas musik yang dibuat dengan dedikasi tinggi tidak akan pernah lekang oleh waktu. Ia telah bermigrasi dari rak-rak toko kaset di Shinjuku tahun 1982 menuju layanan streaming di smartphone seluruh dunia tahun 2026.
Bagi para J-Lover, City Pop adalah lebih dari sekadar musik; ia adalah kapsul waktu yang membawa kita kembali ke malam-malam neon di Tokyo, memberikan rasa tenang, gaya, dan keceriaan di setiap ketukannya. Jadi, jika Anda belum mencobanya, pasanglah headphone Anda, putar "Plastic Love", dan biarkan diri Anda terbawa suasana kota yang tak pernah tidur.
Daftar Referensi / Daftar Pustaka
Archie, R. (2021). City Pop: The Soundtrack of Japan’s Bubble Era. Journal of East Asian Pop Culture.
Hosokawa, S. (2020). A History of Popular Music in Japan. University of Tokyo Press.
Nagai, Hiroshi. (2023). Long Vacation: The Art of Hiroshi Nagai. Tokyo: Graphic-sha.
Rolling Stone Japan. (2024). The Global Phenomenon of City Pop: From YouTube to The Weeknd.
Yamashita, Tatsuro. (2025). Liner Notes: 40 Years of For You (Special Edition).
YouTube Culture & Trends. (2024). How Algorithmic Discovery Revived Japanese 80s Pop.
Apa lagu City Pop pertama yang kamu dengar? Apakah "Plastic Love" atau "Stay with Me"? Bagikan playlist favoritmu di kolom komentar agar kita bisa saling berbagi rekomendasi!

0 Comments
Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥