06 January 2013

Japanese Textile

Berbagai jenis tekstil Jepang seperti sutra Chirimen, Meisen, dan katun Kasuri.
Terakhir Diperbarui: 7 Januari 2026 | Waktu baca: 10 menit

Bagi para pecinta budaya Jepang atau Japan Enthusiasts, memiliki atau mengenakan Kimono adalah sebuah impian. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua Kimono dibuat dari bahan yang sama? Di balik keindahannya, terdapat kompleksitas material yang menentukan nilai, kegunaan, hingga strata sosial pemakainya.

Dari kelembutan sutra Chirimen hingga ketangguhan katun Kasuri, setiap helai benang menceritakan sejarah panjang kerajinan tangan Negeri Sakura. Dalam artikel ini, kita akan membedah berbagai jenis tekstil Jepang agar Anda tidak salah pilih saat ingin mengoleksi atau menjahit busana bertema Jepang.


1. Keajaiban Sutra (Silk) Jepang

Sutra adalah material kasta tertinggi dalam pembuatan Kimono formal. Berikut adalah varian sutra yang paling umum ditemukan:

Chirimen dan Kinsha (Sutra Crepe)

Keduanya memiliki permukaan bertekstur unik yang dihasilkan dari teknik pemintalan benang yang dipelintir saat penenunan.

  • Chirimen: Memiliki bobot yang lebih berat dan kuat dibandingkan sutra biasa. Chirimen dikenal karena kemampuannya jatuh di badan (drapery) dengan sangat elegan.

  • Kinsha: Versi yang jauh lebih halus dan ringan dari sutra tipe crepe. Kinsha sering digunakan untuk kimono musim panas yang lebih mewah namun tetap dingin.

Meisen Silk

Sutra ini sangat populer antara tahun 1920 hingga 1950. Ciri khasnya adalah teknik Ikat (serupa dengan teknik ikat di Indonesia), di mana benang diwarnai sebelum ditenun.

  • Proses: Benang direnggangkan pada bingkai, bagian tertentu diikat agar warna tidak masuk, lalu dicelup ke pewarna. Hasilnya adalah pola dengan tepi yang sedikit "berbayang" atau tidak rata yang justru memberikan kesan artistik.

  • Keunggulan: Meisen lebih terjangkau dan sering kali memiliki desain yang inovatif dengan pengaruh gaya Barat (Art Deco/Modern).

Omeshi Silk

Jika Anda mencari kualitas tertinggi untuk sutra yang benangnya diwarnai sebelum ditenun (pre-dyed), maka Omeshi adalah jawabannya. Teksturnya menyerupai Chirimen namun jauh lebih kaku dan kuat karena menggunakan benang yang dipelintir sangat kencang. Secara tradisional, Kimono Omeshi dianggap sebagai simbol kemewahan dan status.

Rinzu Silk

Rinzu adalah sutra damask Jepang yang sangat rumit. Polanya ditenun sedemikian rupa sehingga menciptakan efek tekstur dan kilau yang berbeda antara latar belakang dan motifnya. Seringkali, kain Rinzu ditumpuk lagi dengan teknik pewarnaan tangan (Yuzen) atau ikat celup (Shibori), menjadikannya salah satu tekstil termahal di Jepang.

Tsumugi dan Urushi Silk

  • Tsumugi: Dibuat dari sisa filamen kepompong sutra yang dipintal dengan tangan. Teksturnya tidak rata, agak kasar, dan sekilas mirip katun. Meskipun terbuat dari sutra, Tsumugi dianggap sebagai pakaian santai namun sangat dihargai karena proses pembuatannya yang memakan waktu lama.

  • Urushi: Jenis yang sangat unik karena menggunakan benang yang dilapisi pernis (lacquer) yang ditenun ke dalam kain, memberikan efek timbul mirip sulaman tangan yang mewah.


2. Bahan Alternatif: Jinken (Rayon)

Produksi Jinken atau sutra buatan (rayon) dimulai di Jepang pada tahun 1918. Terbuat dari bubur kayu, kain ini menjadi sangat populer sebelum Perang Dunia II karena harganya yang lebih ekonomis namun memiliki tekstur yang sangat mirip dengan sutra asli. Keunggulan utama Jinken adalah kemampuannya untuk dicuci, menjadikannya pilihan praktis bagi masyarakat Jepang kala itu.


3. Ketangguhan Kain Katun (Cotton)

Jika sutra untuk acara formal, maka katun adalah "pahlawan" bagi masyarakat pedesaan dan pakaian kerja.

Kasuri (Cotton Kasuri)

Katun ini sangat kuat dan awet, awalnya dibuat oleh istri para petani sebagai pakaian kerja suami mereka. Sama seperti Meisen, Kasuri menggunakan teknik ikat.

  • Warna Klasik: Kasuri tradisional identik dengan warna biru tua yang berasal dari tanaman Indigo (nila), menghasilkan pola putih-biru yang sangat ikonik dengan tepi motif yang tampak sedikit bergetar (shimmering).

Muslin

Kain katun tipis yang ditenun dengan halus. Sebelum Perang Dunia II, Muslin sangat umum digunakan sebagai bahan untuk Juban (pakaian dalam kimono) pria karena teksturnya yang ringan dan menyerap keringat.


4. Teknik Hiasan Permukaan: Sashiko dan Shibori

Selain bahan dasar, keindahan tekstil Jepang juga ditentukan oleh cara kain tersebut dihias.

Sashiko (Seni Tusuk Jelujur)

Awalnya, Sashiko adalah teknik praktis untuk menambal atau memperkuat pakaian yang rusak dengan menjahitkan beberapa lapis kain menjadi satu. Namun, teknik jelujur ini berkembang menjadi seni dekoratif yang indah. Menggunakan benang tebal yang kontras, Sashiko membentuk pola geometris yang rumit dan artistik.

Shibori (Teknik Ikat Celup)

Shibori adalah "batik ikat" versi Jepang. Kain dimanipulasi dengan cara dilipat, dijahit, atau diikat kencang sebelum dicelupkan ke pewarna.

  • Ciri Khas: Teknik yang paling terkenal menciptakan pola lingkaran kecil yang tak terhitung jumlahnya dengan permukaan kain yang berkerut. Proses ini sangat padat karya dan membutuhkan ketangkasan tangan yang luar biasa tinggi.


Kesimpulan: Mana yang Harus Anda Pilih?

Memahami tekstil Jepang bukan hanya soal estetika, tapi juga soal menghargai proses pembuatannya.

  1. Untuk acara formal, pilihlah Rinzu atau Chirimen.

  2. Untuk gaya retro dan kasual yang chic, Meisen adalah pilihan terbaik.

  3. Untuk ketahanan dan kenyamanan harian, Kasuri atau Jinken bisa menjadi opsi yang pas.

Setiap bahan memiliki "jiwa" tersendiri yang akan membuat pengalaman mengenakan busana Jepang Anda menjadi lebih bermakna. Jadi, bahan mana yang paling menarik perhatian Anda?


Daftar Referensi

  • Dalby, L. (2001). Kimono: Fashioning Culture. University of Washington Press.

  • Jackson, A. (2015). Kimono: The Art and Evolution of Japanese Fashion. Victoria & Albert Museum.

  • Stinchecum, A. M. (1984). Kosode: 16th-19th Century Textiles in the Itsuo Art Museum. Kodansha International.

  • Takeda, S. S., & Spilker, K. D. (2014). When Art Became Fashion: Kosode in Edo-Period Japan.


Apakah artikel ini membantumu mengenal lebih dalam tentang kain Jepang? Jangan ragu untuk bertanya di kolom komentar ya!

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages