Terakhir Diperbarui: 7 Januari 2026 | Waktu baca: 15 menit
Bagi banyak orang dari budaya Barat maupun sebagian masyarakat Indonesia, mengeluarkan suara saat makan—terutama suara menyeruput yang keras—sering dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan atau tidak beretika di meja makan. Namun, jika Anda melangkah kaki ke dalam kedai ramen yang sempit di sudut Shinjuku atau restoran soba legendaris di Kyoto, Anda akan disambut oleh paduan suara "slurping" yang meriah.
Di Jepang, suara menyeruput mi ini memiliki istilah onomatope khusus: Zuzutto.
Menyeruput mi dengan keras bukan sekadar kebiasaan makan yang ceroboh. Ini adalah sebuah fenomena budaya yang melibatkan sejarah, teknik kuliner, hingga penjelasan ilmiah tentang cita rasa. Mengapa tradisi ini tetap lestari di tengah masyarakat Jepang yang dikenal sangat sopan dan tenang? Mari kita bedah alasannya secara mendalam.
1. Rahasia Ilmu Cita Rasa: Aerasi dan "Retronasal Olfaction"
Alasan paling mendasar mengapa orang Jepang menyeruput mi mereka—khususnya Ramen, Udon, dan Soba—berkaitan erat dengan bagaimana lidah dan hidung kita memproses rasa.
Menghirup Udara Bersama Mi
Saat seseorang menyeruput mi dengan cepat dan keras, mereka sebenarnya sedang menghirup udara dalam jumlah besar bersamaan dengan helaian mi dan sedikit kuah. Proses ini mirip dengan teknik yang digunakan oleh para pencicip anggur (wine tasters) profesional yang dikenal sebagai aerasi.
Ketika udara masuk bersama makanan, ia membantu menguapkan molekul aroma di dalam mulut. Molekul-molekul ini kemudian naik ke bagian belakang tenggorokan menuju rongga hidung. Fenomena ini disebut sebagai Retronasal Olfaction. Karena sebagian besar dari apa yang kita anggap sebagai "rasa" sebenarnya berasal dari indra penciuman, menyeruput secara signifikan meningkatkan intensitas rasa kaldu yang kompleks dan aroma gandum dari mi tersebut.
Memaksimalkan Kontak Lidah
Suara "zuzutto" memastikan bahwa kuah menempel pada permukaan mi secara merata. Tanpa penyeruputan yang kuat, kuah cenderung jatuh kembali ke mangkuk, menyisakan mi yang terasa lebih hambar. Dengan menyeruput, Anda memastikan setiap helaian mi terlapisi sempurna oleh lemak, bumbu, dan kaldu.
2. Kontrol Suhu: Cara Pintar Menikmati Hidangan Panas
Mi di Jepang, seperti Ramen dan Udon, hampir selalu disajikan dalam suhu yang sangat panas (seringkali mendekati titik didih). Di sisi lain, mi paling enak dinikmati saat masih dalam kondisi al dente atau kenyal sempurna.
Jika Anda menunggu mi menjadi dingin secara alami di dalam mangkuk, tekstur mi akan menjadi lembek karena terlalu lama terendam air panas (kondisi yang disebut nobiru). Menyeruput memungkinkan udara dingin masuk dan mendinginkan mi secara instan saat melewati bibir dan lidah Anda. Dengan teknik ini, orang Jepang bisa menikmati mi yang masih panas tanpa membakar mulut, sekaligus menjaga tekstur mi tetap pada kondisi terbaiknya.
3. Sejarah dari Zaman Edo: Kelahiran Budaya Soba
Secara historis, budaya menyeruput keras ini berakar kuat pada zaman Edo (1603-1868), khususnya pada konsumsi Soba (mi gandum kuda).
Pada masa itu, soba dianggap sebagai "makanan cepat saji" bagi rakyat jelata. Berbeda dengan upacara minum teh yang sangat formal dan tenang, kedai soba adalah tempat yang santai. Soba memiliki aroma nutty yang khas dari gandum kuda yang akan hilang jika dimakan perlahan. Para penikmat soba di zaman Edo menemukan bahwa menyeruput adalah cara tercepat untuk menangkap aroma esensial tersebut sebelum menguap. Seiring waktu, kebiasaan ini merembet ke jenis mi lainnya seperti Udon dan kemudian Ramen yang muncul di era modern.
4. Bentuk Apresiasi kepada Sang Koki
Dalam konteks sosial di Jepang, suara seruputan yang mantap berfungsi sebagai sinyal komunikasi non-verbal kepada koki atau tuan rumah.
Suara keras tersebut menandakan bahwa:
Makanan tersebut sangat lezat.
Anda sedang menikmati hidangan tersebut dengan penuh semangat.
Anda menghargai kerja keras koki dalam meramu kaldu yang nikmat.
Sebaliknya, makan mi dengan terlalu tenang terkadang bisa disalahartikan bahwa Anda tidak terlalu menikmati hidangannya, atau bahkan menganggapnya kurang enak. Di restoran-restoran mi tradisional, suara "zuzutto" adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan seorang pelanggan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
5. Kontroversi Modern: "Noodle Harassment" (Nu-Hara)
Meski budaya ini sangat mendarah daging, bukan berarti tidak ada perdebatan. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah Nu-Hara atau Noodle Harassment.
Istilah ini muncul dari fenomena di mana beberapa orang (terutama turis asing atau generasi muda Jepang yang sangat terpengaruh budaya Barat) merasa terganggu atau risih dengan suara menyeruput yang terlalu keras di tempat umum. Namun, sebagian besar masyarakat Jepang tetap membela tradisi ini sebagai identitas kuliner mereka yang unik.
Pemerintah Jepang dan organisasi pariwisata seringkali memberikan edukasi kepada turis bahwa suara tersebut bukanlah bentuk ketidaksopanan, melainkan bagian dari pengalaman kuliner autentik yang justru harus dicoba.
Tabel Perbedaan: Etika Makan Mi vs Barat
| Karakteristik | Budaya Jepang (Mi) | Budaya Barat / Umum |
| Suara | Disarankan (Menunjukkan kenikmatan) | Dilarang (Dianggap tidak sopan) |
| Suhu Makanan | Dinikmati saat sangat panas | Menunggu hingga hangat/suhu ruang |
| Kecepatan | Cepat (Agar mi tidak lembek) | Lambat (Menikmati per suap) |
| Fungsi Udara | Mendinginkan & Aerasi rasa | Mengunyah dengan mulut tertutup |
Tips: Bagaimana Cara Menyeruput dengan Benar?
Jika Anda ingin mencoba "Zuzutto" saat berkunjung ke Jepang atau resto ramen lokal, ikuti langkah berikut agar tidak terlihat canggung:
Ambil Sedikit: Jangan mengambil mi terlalu banyak dalam satu sumpit.
Dekatkan Wajah: Bungkukkan sedikit badan Anda agar jarak antara mulut dan mangkuk tidak terlalu jauh.
Gunakan Napas: Tarik mi ke dalam mulut dengan isapan napas yang kuat dan cepat melalui bibir yang agak mengecil.
Jangan Takut Suara: Biarkan suara "slurp" itu keluar secara alami.
Hati-hati Cipratan: Ini adalah tantangan terbesar! Pastikan gerakan Anda terkontrol agar kuah tidak memercik ke baju atau wajah teman makan Anda.
Kesimpulan
Budaya menyeruput mi di Jepang adalah perpaduan antara fungsionalitas, ilmu pengetahuan rasa, dan penghormatan sejarah. Dengan melakukan "Zuzutto", Anda tidak hanya mendinginkan makanan atau meningkatkan rasa, tetapi Anda juga sedang berpartisipasi dalam sebuah ritual budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Jadi, saat Anda menyantap mangkuk ramen berikutnya, jangan ragu untuk melepaskan beban etika Barat Anda sejenak. Tarik napas dalam, seruput mi Anda dengan keras, dan rasakan perbedaannya!
Daftar Referensi / Daftar Pustaka
Itoh, M. (2017). The History of Soba: From Edo to Modern Day. Japan Times.
Kushner, B. (2012). Slurp! A Social History of Ramen. Global Oriental.
Spence, C. (2017). Gastrophysics: The New Science of Eating. Penguin Books.
Web Japan. (2023). Why Japanese People Slurp Their Noodles: The Science of Flavor.
NHK World. (2024). Trails to Oishii Tokyo: The Ramen Culture.
Bagaimana menurutmu, J-Lover? Apakah kamu tipe yang suka menyeruput mi dengan keras atau tetap tenang demi kesopanan? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya!

0 Comments
Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥