
Harajuku selalu menjadi tempat di mana aturan mode ditulis ulang. Salah satu sosok yang baru-baru ini menarik perhatian adalah Parai. Penampilannya menjadi bukti nyata bagaimana elemen tradisional Jepang (Wafuku) dapat bertransformasi menjadi gaya jalanan yang sangat chic, modern, dan relevan dengan selera global.
Parai berhasil menciptakan keseimbangan antara keanggunan klasik dan keberanian subkultur Harajuku. Mari kita bedah satu per satu elemen yang membentuk koordinasi busananya yang memukau.
1. Focal Point: Saku Laboratory & GofukuYasan
Bintang utama dari penampilan Parai adalah kimono dari Saku Laboratory. Brand ini dikenal karena pendekatannya yang inovatif terhadap kimono, sering kali menggunakan material unik dan motif yang tidak konvensional. Kimono ini dipadukan dengan Obi dari GofukuYasan, sebuah butik yang spesialis dalam menciptakan sabuk kimono dengan sentuhan artistik yang kuat. Perpaduan ini menciptakan siluet tradisional yang tetap terasa segar dan "muda".

2. Aksesori: Perpaduan High-End dan Handmade
Yang membuat gaya Parai begitu berkelas adalah caranya memilih aksesori. Ia tidak takut mencampurkan brand mewah internasional dengan karya pengrajin lokal:
Chanel Scarf: Digunakan sebagai aksen tambahan yang memberikan nuansa luxury instan pada tampilan kimononya.
Luce Macchia Rings: Cincin kaca yang artistik ini memberikan kesan modern dan transparan yang unik di jemari Parai.
Handmade Bell Earrings: Anting berbentuk lonceng buatan tangan ini memberikan sentuhan personal dan suara "klasik" yang manis setiap kali ia bergerak.
EatMe Bag: Tas dari brand EatMe (milik model Tsubasa Masuwaka) memberikan sentuhan gothic-romantic yang melengkapi palet warna penampilannya.
3. Footwear: Boots over Zori
Alih-alih mengenakan sandal Zori atau Geta tradisional, Parai memilih patent ribbon laced boots (sepatu bot mengkilap dengan tali pita). Pilihan alas kaki ini adalah kunci dari gaya "Harajuku Kimono". Sepatu bot memberikan kesan tangguh dan modern, sekaligus sangat fungsional untuk berjalan menyusuri gang-gang sibuk di Tokyo.

4. Inspirasi Seni: Yohji Yamamoto & Skena Musik
Selera mode Parai tidak datang dari ruang hampa. Ia mengagumi desainer legendaris Yohji Yamamoto, yang dikenal dengan desain asimetris dan dominasi warna hitam yang puitis. Pengaruh Yohji terlihat dari cara Parai mengatur proporsi dan detail pada busananya.
Selain itu, kecintaannya pada musik dari band Sakanaction dan Alexandros seolah tercermin dalam gayanya yang "Indie-Alternative". Musik-musik ini memiliki karakteristik yang sama dengan gaya berpakaian Parai: eksperimental, berkelas, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat.


Kesimpulan
Parai adalah representasi dari generasi baru pecinta mode di Jepang yang tidak ingin melupakan akar tradisi, namun menolak untuk terbatasi oleh aturan lama. Dengan menggabungkan Saku Laboratory, Chanel, dan semangat Yohji Yamamoto, ia menciptakan sebuah identitas visual yang kuat. Bagi para J-Lover, gaya Parai adalah inspirasi sempurna bahwa Kimono bisa menjadi busana sehari-hari yang sangat fashionable.
Daftar Referensi / Daftar Acuan
Tokyo Fashion. (2021). Traditional Meets Modern Japanese Style: Street Style in Harajuku.
Saku Laboratory Official. (2025). Contemporary Kimono Design and Textiles.
GofukuYasan Boutique. (2024). The Art of Modern Obi Styling.
Yamamoto, Yohji. (2010). My Dear Bomb. Ludion.
Japanese Music Archive. (2025). Discography and Visual Aesthetics of Sakanaction and Alexandros.
Elemen mana dari gaya Parai yang paling kamu sukai? Apakah perpaduan kimono dengan sepatu bot, ataukah penggunaan aksesori mewah seperti Chanel? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar!




0 Comments
Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥