Bagi pecinta budaya Jepang, mencicipi kuliner autentik seperti sushi, sashimi, atau ramen adalah sebuah keharusan. Namun, tahukah Anda bahwa di balik kelezatan hidangan tersebut, terdapat aturan tak tertulis yang sangat ketat mengenai cara menggunakan alat makannya?
Sumpit, atau dalam bahasa Jepang disebut Hashi (箸), bukan sekadar alat untuk memindahkan makanan ke mulut. Di Jepang, sumpit dianggap sebagai benda yang memiliki nilai spiritual dan merupakan cerminan dari etika serta latar belakang seseorang. Salah menggunakan sumpit di depan orang Jepang, terutama dalam pertemuan formal, bisa dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan atau bahkan membawa sial.
Dalam artikel komprehensif ini, kita akan membahas cara memegang sumpit yang benar hingga daftar panjang larangan (Taboo) yang harus Anda hindari demi menghormati tradisi "Negeri Sakura".
1. Anatomi dan Cara Memegang Sumpit yang Benar
Sebelum masuk ke aturan etika, Anda harus menguasai teknik dasarnya. Memegang sumpit dengan cara yang salah (seperti menyilangkannya) adalah kesalahan fatal pertama bagi pemula.
Langkah demi Langkah:
Sumpit Atas: Peganglah sumpit pertama seperti Anda memegang sebuah pena. Jepit di antara ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Sumpit inilah yang akan bergerak secara aktif untuk menjepit makanan.
Sumpit Bawah: Selipkan sumpit kedua di celah antara ibu jari dan jari telunjuk, lalu sandarkan pada jari manis. Sumpit bawah ini harus tetap diam dan tidak bergerak.
Posisi Jari: Pastikan ujung sumpit sejajar dan tidak saling menyilang. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk menggerakkan sumpit bagian atas ke arah sumpit bawah.
Tips: Jangan memegang sumpit terlalu dekat dengan ujung bawah (bagian yang menyentuh makanan). Peganglah di bagian sepertiga atas sumpit untuk memberikan kendali yang lebih baik dan tampilan yang lebih elegan.
2. Mengenal "Hashi-busaho": Larangan yang Harus Dihindari
Dalam budaya Jepang, terdapat istilah Hashi-busaho yang merujuk pada cara penggunaan sumpit yang buruk atau tidak beretika. Berikut adalah daftar larangan yang paling krusial:
A. Larangan Terkait Kematian (Sangat Penting!)
Beberapa gerakan sumpit sangat dilarang karena menyerupai ritual dalam pemakaman penganut agama Buddha di Jepang.
Tate-bashi (Menancapkan Sumpit): Jangan pernah menancapkan sumpit secara vertikal di dalam mangkuk nasi. Ini menyerupai persembahan nasi bagi orang yang baru saja meninggal.
Hiroi-bashi (Memindahkan Makanan Antar Sumpit): Jangan pernah memberikan makanan langsung dari sumpit Anda ke sumpit orang lain. Dalam ritual pemakaman Jepang, tulang jenazah dipindahkan dengan cara ini. Jika ingin berbagi makanan, letakkan makanan tersebut di piring kecil terlebih dahulu.
B. Larangan Terkait Sikap dan Perilaku
Watashi-bashi: Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk setelah selesai makan. Ini dianggap sebagai tanda bahwa Anda tidak lagi menginginkan makanan tersebut atau menganggap hidangan tersebut tidak enak. Gunakanlah Hashioki (sandaran sumpit).
Sashi-bashi: Menusuk makanan dengan sumpit seolah-olah sumpit adalah garpu. Sumpit digunakan untuk menjepit, bukan menusuk.
Mayo-bashi: Menggerakkan sumpit di atas berbagai piring sambil ragu-ragu memilih makanan mana yang akan diambil. Tentukan pilihan Anda sebelum mengangkat sumpit.
S探-bashi (Saguri-bashi): Mengaduk-aduk isi sup atau piring dengan sumpit hanya untuk mencari potongan daging atau bahan tertentu.
Yose-bashi: Menarik piring atau mangkuk ke arah Anda menggunakan sumpit. Gunakanlah tangan Anda untuk memindahkan peralatan makan.
Namida-bashi: Membiarkan kuah atau saus menetes-netes dari ujung sumpit saat memindahkan makanan.
3. Etika Menggunakan Waribashi (Sumpit Sekali Pakai)
Saat makan di kedai ramen atau restoran santai, Anda akan sering menemui Waribashi—sumpit kayu yang harus dipatahkan sebelum digunakan. Namun, ada etikanya tersendiri:
Cara Mematahkan: Letakkan sumpit secara horizontal di depan dada, lalu patahkan ke arah atas dan bawah (bukan ke samping kanan-kiri) untuk menghindari sikut Anda mengenai orang di sebelah.
Jangan Menggosok Sumpit: Banyak orang memiliki kebiasaan menggosokkan kedua batang sumpit untuk menghilangkan serat kayu. Di Jepang, melakukan ini di depan pelayan atau pemilik restoran dianggap sangat tidak sopan karena mengisyaratkan bahwa sumpit yang mereka sediakan berkualitas murah atau buruk.
4. Hashioki: Tempat Peristirahatan Sumpit Anda
Jika Anda sedang tidak menggunakan sumpit (misalnya saat sedang minum atau mendengarkan orang berbicara), letakkan sumpit Anda di atas Hashioki (sandaran sumpit).
Letakkan ujung sumpit yang runcing di atas sandaran tersebut.
Posisikan sumpit sejajar dengan tepi meja, bukan menunjuk ke arah orang lain yang duduk di depan Anda. Menunjuk seseorang dengan sumpit dianggap sebagai tindakan agresif.
5. Mengapa Etika Sumpit Begitu Penting?
Bagi masyarakat Jepang, Omotenashi (keramahtamahan) bukan hanya tentang bagaimana tuan rumah memperlakukan tamu, tetapi juga bagaimana tamu menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah dan makanan itu sendiri. Menjaga etika sumpit berarti Anda menghargai koki yang memasak, petani yang menanam bahan makanan, dan tradisi yang telah dijaga selama berabad-abad.
Kesalahan kecil mungkin akan dimaklumi jika Anda adalah seorang turis, namun menguasai etika ini akan membuat Anda mendapatkan rasa hormat yang lebih besar dari rekan atau teman-teman di Jepang.
Kesimpulan
Menggunakan sumpit sesuai tradisi Jepang memang membutuhkan latihan dan kesabaran. Namun, dengan menghindari kesalahan-kesalahan dasar seperti Tate-bashi atau Watashi-bashi, Anda sudah selangkah lebih maju untuk menjadi seorang "J-Lover" yang berwawasan luas dan beradab. Ingatlah, inti dari etika makan adalah kenyamanan bersama dan rasa syukur atas hidangan yang tersaji.
Daftar Referensi / Daftar Pustaka
Bestor, T. C. (2004). Tsukiji: The Fish Market at the Center of the World. University of California Press.
Gordenker, A. (2001). Japan Times: Hashi (Chopsticks) Etiquette.
Japan National Tourism Organization (JNTO). (2025). Dining Etiquette in Japan: Dos and Don’ts.
Shimbo, H. (2000). The Japanese Kitchen: 250 Recipes in a Traditional Spirit. Harvard Common Press.
Tames, R. (2005). A Traveller's History of Japan. Interlink Books.
Apakah Anda pernah tanpa sengaja melakukan salah satu larangan di atas saat makan di resto Jepang? Ceritakan pengalaman unikmu di kolom komentar ya!

0 Comments
Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥