Terakhir Diperbarui: 7 Januari 2026 | Waktu baca: 12 menit
Bagi banyak orang, kuliner Jepang mungkin identik dengan Sushi yang segar, Ramen yang mengepul panas, atau renyahnya Tempura. Namun, di balik kelezatan hidangan-hidangan populer tersebut, terdapat sebuah konsep yang jauh lebih mendalam dan spiritual yang dikenal dengan nama Washoku.
Pada bulan Desember 2013, UNESCO secara resmi menetapkan Washoku (tradisi makanan tradisional Jepang) ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Pengakuan ini bukan diberikan semata-mata karena rasa makanannya yang enak, melainkan karena Washoku merupakan sebuah praktik sosial yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap alam, keseimbangan nutrisi, dan semangat kebersamaan masyarakat Jepang.
Mari kita selami lebih dalam apa sebenarnya Washoku, filosofi yang mendasarinya, serta mengapa dunia merasa perlu untuk melestarikan tradisi kuliner ini.
Apa Itu Washoku?
Secara etimologi, kata Washoku (和食) berasal dari dua aksara kanji: "Wa" (和) yang berarti harmoni atau hal yang berkaitan dengan Jepang, dan "Shoku" (食) yang berarti makan atau makanan. Secara harfiah, Washoku dapat diterjemahkan sebagai "makanan Jepang".
Namun, Washoku bukan sekadar resep masakan. Ini adalah sebuah sistem terpadu yang mencakup pemilihan bahan makanan, cara pengolahan, cara penyajian, hingga etika makan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Washoku adalah cerminan dari identitas spiritual orang Jepang yang sangat menghargai perubahan musim dan keberlanjutan sumber daya alam.
4 Karakteristik Utama Washoku Menurut UNESCO
Dalam pengajuannya ke UNESCO, pemerintah Jepang merangkum Washoku ke dalam empat karakteristik inti yang membedakannya dengan budaya kuliner lainnya:
1. Penghormatan Terhadap Bahan Segar dan Variasi Alami
Jepang adalah negara kepulauan yang membentang dari utara ke selatan dengan empat musim yang jelas. Kondisi geografis ini memberikan kekayaan bahan pangan yang luar biasa, mulai dari hasil laut, hasil gunung, hingga sayuran lokal (Kyo-yasai). Washoku sangat mengedepankan penggunaan bahan makanan yang sedang berada dalam masa terbaiknya, atau yang disebut dengan istilah Shun.
2. Keseimbangan Nutrisi yang Mendukung Hidup Sehat
Struktur dasar Washoku sangat ideal untuk kesehatan. Prinsip utamanya adalah Ichiju Sansai (一汁三菜), yang secara harfiah berarti "Satu Sup, Tiga Lauk".
Nasi Putih: Sebagai sumber karbohidrat utama.
Sup (Ichiju): Biasanya berupa sup miso.
Tiga Lauk (Sansai): Terdiri dari satu lauk utama (protein seperti ikan) dan dua lauk pendamping (sayuran atau rumput laut).
Susunan ini memastikan asupan serat, protein, dan vitamin yang seimbang, sekaligus meminimalisir penggunaan lemak hewani, yang berkontribusi pada angka harapan hidup penduduk Jepang yang sangat tinggi.
3. Ekspresi Keindahan Alam dan Perubahan Musim
Dalam Washoku, mata makan sebelum mulut. Penyajian makanan selalu memperhatikan estetika. Piring dan mangkuk dipilih sesuai dengan tema musim. Dekorasi tambahan seperti daun mapel (saat musim gugur) atau bunga sakura (saat musim semi) sering digunakan untuk membawa suasana alam ke atas meja makan.
4. Kaitan Erat dengan Perayaan Tahunan
Washoku memainkan peran vital dalam festival dan upacara adat di Jepang. Contoh paling nyata adalah Osechi Ryori yang disajikan saat Tahun Baru. Setiap jenis makanan dalam Osechi memiliki makna simbolis, seperti udang yang melambangkan umur panjang karena punggungnya yang membungkuk.
Filosofi "Umami" dan Penggunaan Dashi
Salah satu kunci utama kelezatan Washoku yang membuatnya unik di mata dunia adalah penggunaan Dashi. Dashi adalah kaldu dasar yang dibuat dari kombinasi katsuobushi (cakalang asap) dan konbu (rumput laut kering).
Dashi adalah sumber dari rasa kelima yang dikenal sebagai Umami. Berbeda dengan masakan Barat yang banyak menggunakan lemak atau saus kental untuk memberikan rasa, Washoku menggunakan Umami dari Dashi untuk menonjolkan rasa asli dari bahan makanan tanpa menutupinya. Inilah mengapa Washoku terasa sangat "bersih" dan ringan di lidah namun tetap kaya rasa.
Makna Spiritual: Itadakimasu dan Gochisousama
Bagi masyarakat Jepang, makan adalah sebuah tindakan spiritual. Sebelum makan, mereka mengucapkan "Itadakimasu", yang artinya "Saya menerima (nyawa dari bahan makanan ini)". Ini adalah bentuk terima kasih kepada tumbuhan dan hewan yang telah mengorbankan nyawanya untuk menjadi energi bagi manusia.
Setelah makan, mereka mengucapkan "Gochisousama-deshita", yang merupakan bentuk apresiasi kepada semua orang yang terlibat—mulai dari petani, nelayan, hingga koki yang memasak. Washoku mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan makanan (Mottainai) sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
Struktur Formal Washoku: Ichiju Sansai
| Komponen | Deskripsi | Fungsi Nutrisi |
| Gohan | Nasi putih atau nasi dengan campuran bijian. | Sumber energi utama. |
| Shiru (Soup) | Biasanya Miso Shiru yang kaya akan probiotik. | Hidrasi dan membantu pencernaan. |
| Okazu Utama | Ikan bakar, sashimi, atau tahu. | Sumber protein utama. |
| Okazu Pendamping 1 | Sayuran rebus (Nimono) atau salad. | Serat dan vitamin. |
| Okazu Pendamping 2 | Acar (Tsukemono) atau rumput laut. | Mineral dan enzim pencernaan. |
Tantangan Washoku di Era Modern
Meskipun telah diakui oleh UNESCO, Washoku menghadapi tantangan besar di negerinya sendiri. Globalisasi dan gaya hidup yang cepat membuat banyak generasi muda Jepang beralih ke Yosoku (makanan ala Barat) atau makanan cepat saji.
Pengakuan UNESCO ini menjadi pengingat bagi masyarakat dunia, terutama warga Jepang, untuk kembali ke akar budaya mereka. Program edukasi makanan (Shokuiku) kini gencar dilakukan di sekolah-sekolah di Jepang untuk memastikan bahwa tradisi Washoku tidak hanya menjadi sejarah dalam buku teks, tetapi tetap hidup di atas meja makan setiap rumah.
Kesimpulan
Washoku bukan sekadar tentang cara memasak ikan atau merebus sayuran. Ia adalah sebuah filosofi hidup tentang bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan alam sekitar secara harmonis. Dengan memahami Washoku, kita belajar bahwa makanan adalah lebih dari sekadar pengenyang perut; ia adalah seni, sejarah, kesehatan, dan bentuk syukur yang mendalam.
Bagi kita para "J-Lover", mengapresiasi Washoku berarti menghargai dedikasi Jepang dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan kesehatan di tengah dunia yang semakin modern.
Daftar Referensi / Daftar Pustaka
Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Japan. (2024). Washoku: Traditional Dietary Cultures of the Japanese.
UNESCO Intangible Cultural Heritage. (2013). Washoku, traditional dietary cultures of the Japanese, notably for the celebration of New Year.
Tsuji, Shizuo. (2007). Japanese Cooking: A Simple Art. Kodansha International.
Hosking, Richard. (1996). A Dictionary of Japanese Food: Ingredients & Culture. Tuttle Publishing.
Rath, Eric C. (2010). Food and Fantasy in Early Modern Japan. University of California Press.
Apakah Anda lebih suka hidangan Washoku yang otentik atau lebih suka makanan Jepang yang sudah dimodifikasi seperti Sushi Fusion? Berikan pendapat Anda di kolom komentar!

0 Comments
Hi, everyone. Please let me know if you have any comment regarding to the articles, reviews or just suggestion regarding to this site~♥